Portal Jurnal UPI

Taklim : Jurnal Pendidikan Agama Islam

Menggali Setetes Ilmu Ilahi

« Volume 12 No. 1 Maret 2014

FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM SEBAGAI LANDASAN MEMBANGUN SISTEM PENDIDIKAN ISLAMI

Ahmad Syamsu Rizal
Abstrak
Filsafat Pendidikan Islam memiliki corak yang khas dan unik. Hal ini terletak pada karakter fondasional dan substansial dari ketiga terminologi yang termuat di dalam konsep itu sendiri, yaitu filsafat, pendidikan dan Islam. Yang pertama bersifat kontemplatif-reflektif, yang kedua bersifat praktis-pragmatis dan yang ketiga bersifat doctrinair-uncriticable. Oleh karena itu, dalam merumuskan Filsafat Pendidikan Islam diperlukan analisis dan pemikiran rasional yang cermat yang menghasilkan suatu gagasan ideal yang mungkin diaplikasikan dalam tataran praksis tanpa mengabaikan doktrin teologis Islami. Dalam menganalisis dan merumuskan landasan Filsafat Pendidikan Islam dalam makalah ini, penulis menggunakan sumber-sumber Alquran, Hadits-hadits Nabi saw. dan hasil pemikiran para cendekiawan Muslim baik yang lawas maupun yang kontemporer, baik pada tataran teoritis maupun praktis sebagai ijtihad ‘amali para ulama kreatif dalam melaksanakan pendidikan.
Dalam aspek ontologis pendidikan, pandangan Islam tentang alam semesta yang menyangkut aspek teologis, kosmologis dan antropologis berimplikasi pada pemikiran dalam merumuskan tujuan pendidikan Islam, yang secara idealis mencapai ultimate-goal sebagai insan-kamil. Adapun dalam konteks kehidupan duniawi hendak membina potensi-potensi manusia agar mampu melaksanakan amanah Allah sebagai khalifah di muka bumi. Khalifah adalah diri-diri yang mampu berbuat dan bekerja didasari oleh akhlak terpuji, yang dalam komunitas secara bersama-sama membangun peradaban dan kebudayaan yang berbasis pada kesadaran ruhani. Dalam aspek epistemologis pendidikan berimplikasi pada pemilihan muatan pendidikan Islam dan cara mengomunikasikan muatan kepada para pembelajar oleh agen-agen pendidikan. Muatan pendidikan Islam harus mencakup ilmu-ilmu untuk mengenali Tuhan (ma’rifatullah, theologi), ilmu-ilmu untuk mengetahui rahasia alam semesta (untuk kepentingan pemanfaatan), ilmu-ilmu kemanusiaan (untuk memahami potensi-potensi diri dan cara pengembangannya), ilmu-ilmu kehidupan (untuk menata kehidupan yang menenangkan). Dalam Islam, ilmu-ilmu ini bersifat instrumental, dalam rangka meningkatkan spritualitas diri, penataan hidup, pencapaian kebahagiaan lahir batin dan dinamisasi peradaban. Oleh karena itu, komunikasi dalam interaksi pendidikan meniscayakan tersentuhnya kelima dimensi kemanusiaa dalam proses pendidikan, yaitu ruh, akal, emosi, hawa nafsu dan anggota tubuh. Dalam hal inilah guru, yang berperan sebagai mu’allim, mursyid dan murabbi, mengembangkan diri sebagai medium-exemplaris dalam proses pendidikan yang tak terbatas oleh ruang dan waktu. Adapun dalam aspek eksiologis pendidikan berimplikasi pada nilai pendidikan Islam yang lebih menekankan pada motif ta’abbudi (keibadahan) dan berorientasi ukhrawi dari setiap fihak yang terlibat dalam proses pendidikan. Dimana proses pendidikan harus dibangun dengan rahmah, yaitukasih sayang tanpa pamrih.

Kata kunci : khalifah, akhlak mulia, ma’rifatullah, mu’allim, ta’abbudi dan rahmah

Abstrak DOC       Abstrak PDF       Fulltext PDF      Send to email      Print      Share on Facebook

© Universitas Pendidikan Indonesia 2011.