Portal Jurnal UPI

Saung Guru

Sarana Aktivitas Dan Unggulan Guru

« Vol. XI No.3 Desember 2018

FARMER BEHAVIOR IN UTILIZING THE LANDS AS AN ADDITIONAL FAMILY INCOME AT DESA KARANGTANJUNG KECAMATAN CILILIN DISTRICT BANDUNG (PERILAKU PETANI DALAM MEMANFAATKAN LAHAN PEKARANGAN SEBAGAI TAMBAHAN PENDAPATAN KELUARGA DI DESA KARANGTANJUNG KECAMATAN CILILI

Iwan Setiawan, Nandi (FPIPS UPI Bandung)
Abstrak
The grounds in rural communities are still "terugval bases" namely a parent base that can be re-occupied if at any time the business in the fields or moor fails due to catastrophe. If this happens then the difficulties of life can be mitigated by the yield of the yard (until the fields or other land can produce it again). This is very important considering the development of the agricultural sector today is full of risks and obstacles, both technically, naturally and macroeconomically. If this yard pattern can provide an alternative business, then this business can contribute not small to a base of rural life that depends a lot on the agricultural sector. From the various information and facts mentioned above, it is clear that research and development of integrated agricultural enterprises in the yard needs to be carried out to support Government programs in the procurement of food to meet daily needs. The method used in this study is survey. Data obtained through questionnaires namely as a tool for collecting basic data and direct field observations. The population in this study were all family heads who had a livelihood as farmers who lived in Karangtanjung Village, Cililin District. The number of samples taken was set at 56 heads of families. Determination of respondents' samples is done by Random Sampling technique. In accordance with the objectives, the data analysis used percentage analysis. The results showed that the socio-economic conditions of farmers in Karangtanjung Village had limited land area, so that income from agricultural land was also very low and insufficient for daily living needs. As a result, farmers in this village have low socio-economic conditions, both income and education. The yard is already being used intensively, but some are left unplanted. Several types of plants and livestock can be found in a number of farmer's yards. Plants that are generally planted by farmers include flowers, chillies, onions, cassava, cabbage, corn, peanuts, coconuts, mangoes, turmeric, guava, bananas, sapodilla, lemongrass, breadfruit, sosin, waluh, and oranges. In addition to plants, farmers also use land to raise livestock such as chickens, sheep, fish, and others. The low area of land ownership and types of plants planted are of less economic value, resulting in relatively small contribution of the yard to increase farmers' income. Nevertheless, potentially this contribution can be increased by utilizing a yard with commodities that are of more high economic value. Unfortunately, the low level of knowledge and skills of farmers is not supportive in that direction.. Pekarangan di masyarakat pedesaan masih merupakan "terugval basis" yaitu suatu pangkalan induk yang dapat diduduki kembali apabila sewaktu-waktu usaha di sawah atau tegalan gagal karena malapetaka. Apabila hal ini terjadi maka kesulitan hidup dapat diperingan oleh hasil pekarangan (sampai sawah atau lahan lain dapat menghasilkan kembali). Hal ini sangat penting mengingat perkembangan sektor pertanian masa kini penuh dengan risiko dan hambatan, baik secara teknis, alam dan ekonomi makro. Jika pola pekarangan ini dapat memberi alternatif usaha, maka usaha ini dapat memberi kontribusi yang tidak kecil bagi suatu basis kehidupan di pedesaan yang banyak tergantung pada sektor pertanian. Dari berbagai keterangan dan kenyataan tersebut di atas,jelas bahwa penelitian dan pengembangan usaha pertanian terpadu di pekarangan perlu dilakukan untuk menunjang program Pemerintah dalam pengadaan pangan guna memenuhi keperluan sehari-hari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu survei. Data yang diperoleh melalui kuisioner yaitu sebagai alat pengumpulan data pokok dan observasi lapangan secara langsung. Populasi dalam penelitian ini adalah semua kepala keluarga yang memiliki mata pencaharian sebagai petani yang bertempat tinggal di Desa Karangtanjung, Kecamatan Cililin. Besamya sampel yang diambil ditetapkan sebanyak 56 kepala keluarga. Penentuan sampel responden dilakukan dengan teknik Random Sampling. Sesuai dengan tujuan, maka analisis data yang digunakan analisis persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi sosial ekonomi petani di Desa Karangtanjung memiliki lahan dengan luas yang terbatas, sehingga pendapatan dari lahan pertanian juga sangat rendah dan tidak mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Akibatnya petani di desa ini memiliki kondisi sosial-ekonomi yang rendah, baik pendapatan maupun pendidikannya. Lahan pekarangan tersebut ada yang sudah dimanfaatkan secara intensif, tetapi ada pula yang dibiarkan tidak ditanami. Beberapa jenis tanaman dan hewan ternak dapat dijumpai pada sejumlah pekarangan milik petani. Tanaman yang umumnya ditanam petani diantaranya adalah bunga, cabe, bawang, singkong, kol, jagung, kacang, kelapa, mangga, kunyit, jambu, pisang, sawo, sereh, sukun, sosin, waluh, dan jeruk. Selain tanaman, petani juga memanfaatkan lahan untuk beternak seperti ayam, domba, ikan, dan lain-lain.Rendahnya luas pemilikan lahan dan jenis tanaman yang ditanam kurang bernilai ekonomi mengakibatkan kontribusi pekarangan dalam menambah pendapatan petani relatif kecil. Walaupun demikian, secara potensial kontribusi tersebut dapat ditingkatkan dengan memanfaatkan pekarangan dengan komoditas yang lebih bernilai ekonomi tinggi. Sayangnya, tingkat pengetahuan dan keterampilan petani yang rendah kurang mendukung ke arah itu.

Kata kunci : Perilaku Petani, Lahan Pekarangan, Pemanfaatan Lahan Pekarangan

Abstrak DOC       Abstrak PDF       Send to email      Print      Share on Facebook

© Universitas Pendidikan Indonesia 2011.