Portal Jurnal UPI

Saung Guru

Sarana Aktivitas Dan Unggulan Guru

«

PENDIDIKAN NILAI SECARA ACTIVE-LEARNING DALAM TRADISI PONDOK PESANTREN

Ahmad Syamsu Rizal
Abstrak
Pendidikan nilai bukanlah proses pendidikan yang sederhana, karena melibatkan setidaknya tiga aspek yang menimbulkan perdebatan filosofis dan pragmatis. Pertama, menyangkut "pendidikan" yang kompleks karena melibatkan banyak segmen yang satu sama lain terkait secara sistemik; kedua, menyangkut "nilai" yang bersifat kompleks karena menimbulkan perdebatan filosofis yang belum selesai; dan ketiga, menyangkut "kepribadian" yang kompleks yang merupakan subjek aktif yang memiliki kehendak dan memiliki kesanggupan menentukan pilihan oleh dirinya.
Meskipun demikian, pendidikan karakter harus dilakukan, karena karakter terbentuk dari proses interaksi dengan lingkungan luar. Sedangkan kepribadian sebagai realitas yang kompleks keterbentukannya pada diri seseorang melibatkan banyak faktor penentu. Oleh karena itu, pengembangan metodologi dalam pendidikan karakter perlu dilakukan terus menerus, yaitu dengan cara mengembangkan pola-pola pembelajaran yang tepat dengan tujuan sejati dari pendidikan nilai, yaitu dalam rangka membentuk karakter.
Pola yang sudah berjalan dalan tradisi pendidikan di pesantren barangkali dapat menjadi suatu alternatif ditengah tidak adanya model-model yang memadai dalam membentuk karakter yang dicita-citakan. Hal ini karena ternyata Pesantren memiliki sesuatu “kearifan lokal,” (genius loci) sendiri yang bertahan dan menunjukkan hasil yang relatif lebih baik, dalam pembinaan karakter dibanding sistem lain yang jelas telah gagal dalam membentuk karakter bangsa.
Dalam upaya mencapai targetnya membina al-akhlaq al-karimah, suatu istilah pesantren bagi konsep karakter yang berbasiskan pada nilai-nilai Islam, Pondok Pesantren Al-Basyariyah dalam melaksanakan pendidikannya bertumpu pada empat komponen struktural paedagogis khas pesantren, yaitu fungsionalisasi secara optimal potensi-potensi edukatif yang dimiliki, yaitu 3K dan 3G atau 3(KG); cara pandang holistik terhadap individu sebagai subjek didik; diversifikasi metode selaras dengan objek-didik-nilai; dan manifestasi spirit religius dalam proses pendidikan.
Komponen struktural yang keempat inilah yang menjadi motor penggerak keseluruhan kegiatan edukatif di Pondok Pesantren Al-Basyariyah, di mana nilai "ta'abbudi" (ritualitas), menjadi nilai kepentingan bagi segala perencanaan, rekayasa, pengelolaan dan pelaksanaan proses pendidikan. Itulah yang disebut dengan “spiritual paedagogis,” suatu upaya mendidik (me”manusia”kan manusia) yang berbasis pada nilai spiritual religius dari setiap fihak yang terlibat di dalamnya.

Kata kunci : Pendidikan nilai, active learning, tradisi pesantren

Abstrak DOC       Abstrak PDF       Fulltext PDF      Send to email      Print      Share on Facebook

© Universitas Pendidikan Indonesia 2011.