Portal Jurnal UPI

MANAJERIAL

Jurnal Manajemen & Sistem Informasi

« VOL 3 NO 2 Januari 2009

MEMBANGUN JATI DIRI MANUSIA SEUTUHNYA MELALUI PENDIDIKAN UMUM (GENERAL EDUCATION) (Sebuah Refleksi)

Burhanuddin TR
Abstrak
Menyoal dunia pendidikan, khususnya pendidikan yang membangun jati diri manusia seutuhnya, kiranya tidak akan berhenti. Berbagai kegiatan ilmiah seperti seminar, diskusi, lokakarya dan semiloka terus dilakukan guna mencari sebuah model pendidikan yang dianggap dapat membebaskan manusia dari sikap ketergantungan terhadap benda, pendidikan yang dapat membebaskan manusia dari pendewaan terhadap dunia, dan atau model pendidikan yang dapat mencetak manusia yang utuh, yakni manusia yang manusiawi, manusia memiliki nilai-nilai kemanusiaan sesuai fitrahnya yang dalam falsafah orang Pasundan atikan nu ngahasilkeun “Jalema nu Cageur, bageur, bener, pinter, tur singer”, luyu jeung kunci budaya Ki Sunda, yakni siliasih, siliasah, dan siliasuh pikeun ngahontal siliwawangi (siliwangi).
Tidak dapat dipungkiri bahwa kenyataan di lapangan (konteks) masih kita dapatkan anak-anak bangsa (baca: anak-anak sekolahan mulai dari tingkat dasar hingga tingkat tinggi) yang bahasa dan perilakunya tidak menunjukkan sebagai anak sekolahan yang dapat dibanggakan sebagai generasi yang utuh. Ahmad Tafsir (2000: 3) mengungkapkan bahwa dunia pendidikan di Indonesia belum berhasil. Ini disebabkan oleh kekeliruan dalam meletakkan posisi Pendidikan Agama (baca: pendidikan keimanan) tidak dijadikan sebagai inti (core) kurikulum pendidikan.
Pendidikan manusia seutuhnya, pada dasarnya merupakan tujuan yang hedak dicapai dalam konsep Value Education atau General Education yakni: 1) manusia yang memiliki wawasan menyeluruh tentang segala aspek kehidupan, serta 2) memiliki kepribadian yang utuh. Istilah menyeluruh dan utuh merupakan dua terminologi yang memerlukan isi dan bentuk yang disesuaikan dengan konteks sosial budaya dan keyakinan suatu bangsa yang dalam bahasa lain pendidikan yang dapat melahirkan: a) pribadi yang dapat bertaqarrub kepada Allah dengan benar, dan b) layak hidup sebagai manusia.
Untuk dapat menghasilkan manusia yang utuh, diperlukan suri tauadan bersama antar keluarga, masyarakat, dan guru di sekolah sebagai wakil pemerintah. Patut diingat bahwa pembentukan jati diri manusia utuh berada pada tataran afeksi, dan pembelajarannya dunia afeksi hanya akan berhasil apabila dilakukan melalui metode pelakonan, pembiasaan, dan suri tauladan dari orang dewasa.


Kata kunci : Manusia Seutuhnya, Suri Tauladan

Abstrak DOC       Abstrak PDF       Send to email      Print      Share on Facebook

© Universitas Pendidikan Indonesia 2011.