Portal Jurnal UPI

INVOTEC (Innovation Of Vocational Technology Education)

Jurnal Pendidikan Teknologi Kejuruan

« Vol. IV No.11 Agustus 2007

KETERSEDIAAN GURU TEKNOLOGI DAN KEJURUAN DENGAN PROYEKSI PERTUMBUHAN SISWA SMK MEMAKAI SKEMA SMA(40):SMK(60)

Yadi Mulyadi
Abstrak
Tidak dapat dibantah lagi sekolah menengah kejuruan (SMK) mulai tahun 2006 telah menjadi salah satu ikon program unggulan Departemen Pendidikan Nasional. Berbagai pembicaraan dan diskusi termasuk promosi di berbagai media cetak dan elektronik televisi nasional gencar dilakukan bahkan salah satu pengusaha terkenal Soebronto Laras turut berbicara disamping tokoh lainnya. Fenomena ini tentunya tidak lepas dari pergeseran nilai sistem pendidikan yang nampaknya mulai berorientasi pada lapangan kerja di lapisan
menengah ke bawah, di berbagai sektor baik formal maupun non formal termasuk didalamnya sektor industri sebagai leading sektornya. Rasional kedua adalah program ‘zerro growth’ untuk lulusan sekolah menengah pertama (SMP) yang melanjutkan ke sekolah menengah atas (SMA) dalam arti pemerintah mulai tahun 2006/2007 telah mengambil kebijakan ’incremental’ siswa yang melanjutkan ke sekolah menengah atas diharapkan 0 %. Dan sebaliknya untuk sekolah menengah kejuruan (SMK) diharapkan tumbuh sebesar 3,07 %. Satu persoalan besar dalam mengembangkan program ini adalah ketersediaan guru SMK secara kuantitatif maupun kualitatif apakah ‘fisible’ atau tidak?

Irrefutable again vocational high school (SMK) start’s the year 2006 has become one of preminent
icon program of National Education Department. Various talk and discussion is including promotion in various national media’s and television electronic intensively is done even one of famous entrepreneur of Soebronto
Laras partake’s talking side by other figure. This phenomenon it is of course doesn't get out friction of education system value that is likely start’s oriented at employment in middle layer downwards, in various sectors either formal and also non formal included in of industrial sector as leading sector. Second rational is “zero growth” program for graduate junior school (SMP) continuing to senior high school (SMA). This means, government start’s the year 2006/2007 has take over policy 'incremental' student continue to senior high school (SMA) is expected 0%. Conversely for vocational high school (SMK) expected grows 3.07%. One big problems in developing this program is availability of teacher SMK quantitatively or qualitatively, what 'visible' or no?

Kata kunci : SMK, ketersediaan guru, pertumbuhan siswa

Abstrak DOC       Abstrak PDF       Send to email      Print      Share on Facebook

© Universitas Pendidikan Indonesia 2011.