THE ACQUISITION OF PRAGMATIC DIMENSION IN THE TEACHING AND LEARNING OF MALAY: AN EARLY REVIEW

Lokman Abd Wahid, Malay Language Department, Institut Pendidikan Guru Kampus Bahasa Melayu
Abstrak
Penelitian ini berfokus pada pemerolehan struktur pragmatik dalam kategori bahasa pertama, khususnya dalam bahasa Melayu. Struktur pragmatik dibangun melalui asumsi bahwa penutur memiliki pilihan untuk melakukan Face Threatening Acts (FTA's) dalam mengkonstruksi kalimat untuk kepentingan percakapan. Struktur FTA's terdiri atas Bald On-Record (BOR), Negative Politeness (NP), Positive Politeness (PP), and Off-Record-indirect strategy (OR). Dari sudut pandang pragmatik, masing-masing FTA's mengandung tujuan masing-masing. Untuk melihat kompetensi pemerolehan struktur pragmatik, subjek penelitian ini ditunjukkan dalam interaksi kelas sebanyak tiga hasil pembelajaran. Untuk masing-masing hasil pembelajaran, subjek memperoleh lima situasi dari 18 situasi untuk seluruh tujuan dalam tiga hasil pembelajaran. Masing-masing situasi membutuhkan subjek untuk berdiskusi dan berinteraksi dengan menggunakan FTA's sebagaimana mereka biasa lakukan. Hasil penelitian ini menunjukkan dukungan pemerolehan bahasa atas subjek FTA's, BOR dengan nilai tertinggi, kemudian PP, NP dan OR dalam lima situasi berbahasa yang dapat dilalui oleh subjek.

Kata Kunci: pemerolehan bahasa, pragmatik, Face Threatening Acts (FTA’s)

Abstract
This study is focussing on the acquisition of pragmatic structure in the first language parameter, particularly in Malay. The pragmatic structure assumes that a speaker innately has a choice for Face Threatening Acts (FTA's) in his construction of sentences for a particular conversation. The structure of FTA’s are Bald On-Record (BOR), Negative Politeness (NP), Positive Politeness (PP), and Off-Record-indirect strategy (OR). From the pragmatic perspective, each of the FTA’s consists of a certain purpose. To look at the competency of pragmatic acquisition structure, subjects of this study were exposed through classroom interactions based on three learning outcomes. For each learning outcome, subjects were given six situations which totalling to 18 situations for all the three learning outcomes mentioned. Each situations demands subjects to discuss and interact using the FTA’s that they have already acquired. The study shows that in regard of the acquisition of FTA’s among subjects, BOR acquired the highest score, followed by PP, NP, and OR in all the six situations undergone by the subjects.

Keywords: language acquisition, pragmatic, Face Threatening Acts (FTA’s)


Kata kunci : language acquisition, pragmatic, Face Threatening Acts (FTA’s)